Serangan Hacker Rusia yang Paling Ditakuti AS

Konflik Rusia dan Ukraina tak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga menyerang dunia maya. Namun, tak hanya Ukraina yang menjadi incaran Rusia, negara-negara lain yang mendukung Ukraina seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa juga diklaim terkena imbas serangan siber.

Untuk mengantisipasi, Presiden AS Joe Biden telah meminta perusahaan dan organisasi swasta di AS untuk mengunci pintu digital mereka. Otoritas siber Inggris juga mendukung seruan Gedung Putih untuk meningkatkan tindakan pencegahan keamanan siber.

Walaupun tidak ada bukti yang menyatakan bahwa Rusia merencanakan serangan siber terhadap kedua negara tersebut. Rusia sendiri menyebut bahwa tuduhan AS dan Eropa adalah "Russophobia".

Namun, Rusia adalah negara adidaya dunia maya dengan persenjataan alat siber yang memadai. Belum lagi sumber daya canggih yang mampu melakukan serangan siber mengganggu dan berpotensi merusak.

Para ahli sekarang khawatir bahwa Rusia bisa saja melakukan serangan siber terhadap sekutu Ukraina, Berikut adalah peretasan yang paling ditakuti para ahli

1. BlackEnergy

BlackEnergy merupakan serangan infrastruktur kritis yang ditargetkan. Ukraina sering digambarkan sebagai taman bermain peretasan Rusia, yang diklaim sering kali melakukan serangan di sana, bertujuan untuk sekedar menguji teknik dan alat.

Pada 2015, jaringan listrik Ukraina terganggu oleh serangan siber yang disebut BlackEnergy, menyebabkan pemadaman jangka pendek bagi 80.000 pelanggan perusahaan utilitas di Ukraina barat.

Hampir tepat setahun kemudian serangan siber lain yang dikenal sebagai Industroyer mengambil alih listrik sekitar seperlima dari Kyiv, Ibu Kota Ukraina, selama sekitar satu jam. Akibat serangan ini, AS dan UE menyalahkan peretas militer Rusia.

2. NotPetya

NotPetya dianggap sebagai serangan siber paling mahal dalam sejarah. Bahkan otoritas AS, Inggris dan Eropa menyalahkan sekelompok peretas militer Rusia atas serangan ini.

Perangkat lunak perusak itu disembunyikan dalam pembaruan perangkat lunak akuntansi yang digunakan di Ukraina, tetapi menyebar ke seluruh dunia, menghancurkan sistem komputer ribuan perusahaan dan menyebabkan kerusakan sekitar US$ 10 miliar (Rp143 triliun).

Sebulan sebelum peristiwa NotPetya, Korea Utara dituduh menyebabkan gangguan besar dengan serangan serupa. Dijuluki Worm WannaCry, virus ini mengacak data di sekitar 300.000 komputer pada 150 negara, yang menyebabkan layanan Kesehatan Nasional Inggris terpaksa membatalkan sejumlah besar janji temu medis.

Namun, ilmuwan komputer Prof Alan Woodward, dari University of Surrey, mengatakan serangan semacam itu juga membawa risiko bagi Rusia.

Jenis peretasan yang tidak terkendali ini lebih seperti perang biologis, karena sangat sulit untuk menargetkan infrastruktur kritis tertentu di tempat-tempat tertentu.

3. Colonial Pipeline

Pada Mei 2021, keadaan darurat diumumkan di sejumlah negara bagian AS setelah peretas menyebabkan jaringan pipa minyak yang vital ditutup.

Serangan ini tidak dilakukan oleh peretas pemerintah Rusia, melainkan oleh kelompok ransomware DarkSide yang diduga berbasis di Rusia.

Perusahaan pipa tersebut mengaku membayar hacker US$ 4,4 juta dalam Bitcoin yang sulit dilacak, untuk mendapatkan kembali sistem komputer dan berjalan.

Beberapa minggu kemudian pasokan daging terpengaruh ketika ransomware lain bernama REvil menyerang JBS, pengolah daging sapi terbesar di dunia.

Salah satu ketakutan besar para ahli tentang kemampuan dunia maya Rusia adalah bahwa Kremlin dapat menginstruksikan kelompok kejahatan dunia maya untuk mengkoordinasikan serangan terhadap target AS, demi memaksimalkan gangguan.

Manfaat menginstruksikan penjahat dunia maya untuk melakukan serangan ransomware adalah kekacauan umum yang dapat mereka timbulkan. Dalam jumlah yang cukup besar mereka dapat menyebabkan kerusakan ekonomi yang serius.

Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca, semoga artikel ini bermanfaat bagi kamu yang membacanya.

Posting Komentar

0 Komentar