Sanksi Hacker Dalam Hukum Islam

Hacker bisa menjadi positif atau negatif, tergantung bagaimana konteksnya. Namun, akhir-akhir ini hacker mendapatkan konotasi negatif akibat kerap menyebabkan kerusakan pada sistem komputer dan internet.

Dalam Islam, hacker juga bisa dimaknai dengan dua perspektif. Pertama, kegiatan meretas sistem ini akan menjadi bentuk Jihad fii sabilillah apabila membawa banyak kebaikan kepada umat. Misalkan, merobohkan situs-situs film biru, judi online dan situs lainnya yang membawa keburukan yang bersifat menyesatkan.

Salah satu pilar dakwah Islam adalah mencegah kemungkaran, maka dengan merobohkan situs yang bertujuan untuk menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dan mendeskriditkan umat Islam, akan bernilai sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Ketika kegiatan meretas ini dijadikan sebagai bentuk kejahatan seperti kasus Tempo diretas, maka hukumnya akan berbeda. Dalam Islam perkara ini dapat dikatakan sebagai Tajassus. Tajassus merupakan kegiatan untuk menyelediki atau mengusut suatu perkara secara diam-diam untuk mendapatkan informasi valid.

Dalam Islam, tajassus juga dikenai dua hukum. Apabila tajassus dilakukan oleh muslim kepada orang-orang kafir, maka hukumnya adalah mubah. Hukum ini berdasar kepada perintah Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Jahsy untuk memata-matai kaum kafir Quraisy.

Adapun tajassus yang dilakukan oleh umat muslim terhadap sesama muslim sebagai upaya kejahatan, maka hukumnya adalah haram. Allah SWT menyatakan hukum tajassus secara mutlak dalam Q.S Al-Hujurat:12

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah berburuk sangka (kecurigaan), karena sebagian buruk sangka itu adalah dosa, dan janganlah melakukan Tajassus.

Sobat cahaya Islam, dapat disimpulkan bahwa hukum menjadi hacker itu adalah mubah. Namun, tujuan dalam penggunaan keahlian meretas tersebut yang perlu kembali diperhatikan.


Posting Komentar

0 Komentar